Wednesday, October 16, 2013

Filsafat Timur dan Barat



Filsafat Strukturalisme dan Poststrukturalisme

I.                   Pendahuluan
Dalam mempelajari Filsafat Timur dan Barat kita telah mempelajari pembahasan tentang filsafat Pragmatisme dan Eksistensialisme sebelumnya, kali ini  kita akan membahas tentanng perkembangan filsafat sellanjutnya, yaitu Filsafat Strukturalisme dan Post-strukturalisme, semoga paper kali ini daapat membantu kita memahami perkembangan filsafat didunia Barat

II.                Pembahasan
2.1. Pengertian Strukturalisme
Dalam bahasa Inggris structuralism dalam bahasa latin struere (membangun). Structura berarti bentuk bangunan. Sebuah sudut pandangan, filsafat, atau gerakan filosofis dewasa ini. ajaran pokoknya adalah semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap.[1] Secara umum Structure juga disebut susunan, bangunan, kerangka. Yang merupakan sistem dari unsur-unsur dan relasi-relasi yang saling berhubungan dan merupakan seluruh yang terorganisasi.[2]
Istilah “strukturalisme” mempunyai dua arti. Pertama, strukturalisme sebagai metode yang di pakai untuk mempelajari ilmu kemanusiaan yang bertitik tolak dari asas-asas linguistik. Kedua, strukturalisme sebagai aliran filsafat yang berusaha memahami sejumlah masalah yang selama ini muncul dalam sejarah filsafat. Dalam hal ini metode struktural di pakai untuk memahami manusia, sejarah, kebudayaan serta hubungan kebudayaan dengan alam.[3]
2.2. Sejarah Filsafat Strukturalisme
Strukturalisme adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis.[4] Pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sitaf instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta dan unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme muncul di Perancis sebagai hasil tulisan-tulisan Claude Levi-Strauss.[5]
Peletak dasar strukturalisme ialah Levi-Strauss, penulis sejumlah karya antara lain Les Structure elemtaires de la parente (1949), Tristes Tropiques (1955), Anthropologie structurale (1958). Levi-Strauss disebut peletak dasar strukturalisme, maka hendaknya di ingat bahwa strukturalisme mendapat pengaruh ajaran-ajaran yang lebih dahulu seperti formalisme Rusia, dan khususnya pengaruh Ferdinand de Saussure (1857-1913) dengan karya anumertanya: Cours de Linguistique generale (1916). Dalam arti tertentu De Saussure memulai strukturalisme dengan ilmu bahasa, oleh para penganut formalisme Rusia strukturalisme diterapkan dalam ilmu kesusasteraan, dan dewasa ini oleh Levi-Strauss deterapkan pada etnologi.[6]
Strukturalisme mula-mula hanya terkenal sebagai metode linguistik, namun lama kelamaan srukturalisme juga menjadi suatu aliran dalam filsafat. Para filsuf strukturalisme juga menjadi suatu aliran dalam filsafat. Para filsuf strukturalis tidak memandang manusia sebagai pusat kenyataan, pusat pemikiran, kebebasan, tindakan dan sejarah. Manusia “didesentralisasikan”, diturunkan dari tahtanya sebagai pusat kenyataan. Manusia sekarang diselidiki sebagai unsur yang berfungsi dalam macam-macam struktur bawah sadar, struktur-struktur politik dan struktur-struktur sosial-ekonomi. Fungsi manusia dalam keseluruhan struktur-struktur dibandingkan dengan fungsi kata dalam satu teks. Manusia tidak berbicara sebagai subyek, melainkan lebih “dibicarakan”. Bahasa berbicara melalui manusia. Manusia sebagai makhluk histories dan sebagai subyek bebas, yang merupakan suatu tema pokok dalam filsafat eksistensi, tidak muncul lagi dalam strukturalisme. Manusia digambarkan sebagai “hasil” struktur-struktur, tidak lagi sebagai “pencipta” struktur-struktur itu.[7]

2.3.Ada beberapa macam strukturalisme[8]
1.      Strukturalisme etnologik, yang dirintis oleh Levi-Strauss, dengan menerapkan metode linguistik struktural pada etnografi dan antropologi sosial.
2.      Strukturalisme psikoanalitik, dikembangkan oleh Jacques Lacan yang mengintrepetasikan kembali karya-karya Freud.
3.      Strukturalisme Marxis, yang dikembangkan oleh Louis Althusser. Ia memahami marxisme pertama-tama bukan sebagai humanisme melainkan sebagai teori ilmiah tentang sejarah dan tentang infranstruktur ekonomi.
4.      Strukturalisme epistemologik, yang dikembangkan oleh Michel Founcault yang memetakan kembali konfigurasi dan struktur pengetahuan sepanjang sejarah dengan bertitik tolak pada tiga macam bidang positif: pekerjaan, kehidupan, dan bahasa.

2.4. Tokoh-Tokoh Filsafat Strukturalisme[9]
Filsuf-filsuf terpenting dari  strukturalisme antara lain:
-          Michel Faucault lahir di Poitiers pada tahun 1926 ia menyelidiki pola-pola pemikiran manusia, cara-cara berpikir. Ia menamai pola-pola ini “episteme”.
-          Jacques Lacan (lahir 1901) ia adalah seorang psikiater, yang melanjutkan pemikiran S. Freud. Jika pada Freud masih ada tempat untuk “ego” unsur “aku” yang sadar dan yang dapat mengambil alih posisi terhadap unsur Id dan super ego. Maka pada Lacan unsur “ego” kehilangan artinya. Menurutnya, manusia seluruhnya ditentukan oleh struktur-struktur yang tidak dikuasainya sendiri, Lacan menyelidiki kesejajaran antara struktur bahasa dan struktur jiwa dan ia sampai pada kesimpulan bahwa kesalahan-kesalahan dalam pembentukan jiwa anak muda nampak pada kesalahan-kesalahan dalam pemakaian  bahasanya.
-          Louis Althusser lahir tahun 1918 lahir di Aljazair, ia menyelidiki filsafat Marx dan mengajar suatu Marxisme baru yang melihat kenyataan tidak sebagai suatu proses “dialektis” melainkan suatu proses “strukturalistis”.
Antara tahun 1970 dan 1980 di Paris muncul suatu arah yang lebih baru lagi, yang disebut La Nouvelle Philosophie, “filsafat baru”. Filsafat baru ini belum merupakan suatu  aliran yang mempersatukan wakil-wakil filsafat baru ini adalah keinginan yang sama yaitu berfikir sebagai “desiden”. Mereka adalah orang-orang yang kecewa dengan semua gerakan yang neomarxistis dan revolusi-revolusi mahasiswa tahun 1968, sehingga mereka sering disebut “reaksioner”. Filsafat baru ini lebih merupakan kritik atas masyarakat.
Jika pada bagian sebelumnya kita telah membahas mengenai beberapa aliran yang ada di Perancis, maka pada bagian selanjutnya akan dibahas mengenai dua pemikir                                                                                                                                                                          Perancis yang cukup lama menjadi “mode” dalam hal pemikirannya mereka adalah sastrawan kenamaan yaitu H. Bergson dan J. P. Sartre.


Ø  H. Bergson
Riwayat hidup Henri Louis Bergson lahir di Paris tahun 1859 dari keluarga Yahudi. Ia belajar filsafat dan mengajar di beberapa kota di Perancis. Pada permulaan abad ke 20 filsafat Bergson dengan nama “Bergsonnisme” terkenal di seluruh Eropa. Bahasa tulisan-tulisannya sangat bagus sehingga pada tahun 1927 ia mendapat hadiah nobel untuk sastra. Ia meninggal pada tahun 1941.
Pikiran-pikiran pokoknya adalah sebagai berikut:
  1. Evolusi kreatif
Menurut Bergson alam raya adalah suatu organisme yang  hidup. Seluruh alam merupakan proses yang besar dimana dalam proses itu dimulai eksperimen-eksperimen baru secara terus menerus. Alam itu kreatif tetapi evolusi alam tidak berjalan menurut garis lurus. Proses evolusi itu seperti suatu deretan ledakan periodik. Ia melihat bahwa seluruh proses evolusi sebagai usaha élan vital untuk membebaskan diri dari determinisme materi. Segala sesuatu yang kita lihat sekeliling kita itu memang hasil residu, sedimentasi dari kegiatan élan vital dalam periode sebelum zaman kita.

  1. Waktu dan keberlangsungan
Evolusionisme Bergson tercampur dengan “optimisme kemajuan” yang merupakan ciri khas banyak filsuf dan ilmuan abad 19 dan bagian pertama  abad 20. Tapi yang membedakan Bergson dari pemikir-pemikir evolusionistis yang lain ialah distingsinya antara “waktu” (temps) dan “keberlangsungan” (duree). “Waktu” itu kerangka temporal obyektif matematis. Namun di samping dimensi obyektif ini ada dimensi lain yaitu sebagai “keberlangsungan”, waktu subyektif psikologis,waktu yang dialami oleh kita. Distingsi antara  waktu obyektif dan waktu subyektif merupakan tema terpenting kebanyakan tulisan Bergson, dan tema ini diulangi dalam distingsi-distingsi paralel seperti antara kuantitas dan kualitas, determinisme dan kebebasan, dan akhirnya juga distingsi antara agama statis dan agama dinamis. Manusia hidup dalam dua dimensi waktu menurut pengalaman pribadi. Hal ini merupakan dasar kebebasan manusia. Intensitas waktu yang dialami, “kualitas”, “waktu” keberlangsungan tidak sama dengan ekstensitas atau kuantitas waktu yang dapat diukur. Eksperimen-eksperimen ilmiah yang membenarkan perkataan Bergson yaitu waktu yang lebih terisi kelihatannya lebih lama dari pada waktu yang kosong.

  1. Intelek dan intuisi
Ekstensitas waktu dan intensitas waktu oleh manusia diukur dengan alat-alat yang berbeda yaitu dengan intelek dan intuisi. Intelek menganalisa, menghitung, mengukur dan membandingkan. Intuisi adalah unsur yang menangkap kebebasan élan vital dan “keberlangsungan”. hanya dialami sebagai keseluruhan. Intuisi membebaskan manusia dari ketertutupan waktu matematis. Keberlangsungan tidak “ada” melainkan “menjadi” intuisi adalah kekuatan yang terus menerus mendorong kita untuk memperbaharui pola-pola statis.

  1. Kedua sumber moral dan agama
            Baik dalam moral maupun dalam agama kelihatan suatu dialektik dari suatu sistem tertutup dan tendensi-tendensi kreatif untuk membuka sistem ini. Setiap sistem religius dan etis merupakan “residu”, “abu” dari inspirasi kreatif yang sudah lewat, moral dan agama statis merupakan hasil semangat kreatif yang sudah memadat.

  1. Agama dinamis
            Agama dinamis, agama terbuka disamakan dengan mistik oleh Bergson. Mistik diuraikan sebagai identifikasi dengan kekuatan kreatif yang mengungkapkan diri dalam hidup. Kekuatan kreatif ini berasal dari Allah, tetapi tidak sama dengan Allah. Tugas mistik ialah menekankan hal ini dalam suatu dunia yang sering terlalu teknis. Mistik dan teknis saling membutuhkan sebagaimana teknik merupakan faktor yang penting untuk mempersatukan dunia, karena penerapannya tidak mempedulikan perbedaan-perbedaan idiologis, politik dan religius, demikian juga agama dinamis merupakan suatu instrumen untuk mempersatukan dunia. Agama dinamis mengatasi semua bentuk sektarianisme dan sukuisme.

Pengaruh
            Dalam suatu zaman yang dikuasai cara berpikir positifitas dan deterministis, filsafat Bergson oleh banyak sekali orang dialami sebagai suatu pembebasan. Pengaruh sudah sejak semasa hidupnya besar sekali. Penafsirannya mengenai dunia dan sejarah yang sangat optimis memberi inspirasi kepada banyak murid.

Ø  J. P. Sartre
Riwayat hidup: Jean Paul Sartre lahir di Paris antara tahun 1924 dan 1928. Sartre belajar di Ecole Normale Superleure. Ia mengajar di beberapa Lycea di Perancis, kecuali antara tahun 1933 dan 1935 ketika ia belajar lagi di Jerman dan antara tahun 1939 dan 1940 ketika menjadi tentara dan kemudian tawanan perang. Selama bekerja sebagai buruh, Sartre sudah menerbitkan banyak tetapi baru setelah perang dunia ke dua sartre menjadi sangat terkenal.
            Ia cukup lam menjadi pemikir paling populer di Eropa. “eksistensialismenya” telah menjadi suatu gaya hidup. Sartre merasa banyak bersimpati untuk ajaran Marx, tetapi ia terus menerus mengkritik tafsiran ajaran Marx di negara-negara komunis. Ia meninggal pada tahun 1980.

Pikiran-pikiran pokoknya adalah sebagai berikut:
a. Titik pangkal
            pemikiran Sartre memperlihatkan pengaruh tradisi-tradisi besar filsafat barat, seperti rasionalisme dan idealisme dan juga dipengaruhi oleh fenomenologi begitu juga pemikirannya dipengaruhi pula oleh Marx. Semua pengaruh itu merupakan latar belakang untuk filsafat orisinal yang oleh Sartre disebut ”eksistensialisme”. Menurut Sartre, manusia sama sekali bebas, ia berdiri berhadapan dengan kekosongan, ia dihukum untuk hidup dengan bebas. Kebebasan ini bukan karunia, kebebasan ini suatu beban, kebebasan tidak bermakna dan akhirnya semua aspirasi manusia yang bebas pasti gagal. Juga kegagalan ini tidak merupakan suatu titik pangkal untuk harapan baru, seperti pada eksistensialis-eksistensialis kristiani. Filsafat Sartre bersifat ateistis. Tema sentral pemikiran Sartre adalah manusia yang terpaksa mengisi kebebasannya.

b. Dua bidang dalam kenyataan. l ‘etre-en-soi” dan “l” eitre-pour-soi”. Dalam sejarah filsafat hampir selalu dibedakan antara tingkat-tingkat keberadaan, misalnya dibedakan antara gejala-gejala fisis yang kelihatan dan gejala-gejala mental yang tak kelihatan. Menurut Sartre jelas bahwa ada lebih banyak daripada hanya gejala-gejala fisis maupun di belakang gejala-gejala psikis terdapat suatu kenyataan “transfenomenal”.
            Kenyataan “fenomenal” yang dapat diselidiki atas bidang adanya en-soi dan bidang adanya pour-soi oleh Sartre. Adanya  en-soi “adanya-dalam-dirinya-sendiri”, itu ada benda-benda, yang ada begitu saja, tanpa kesadaran, tanpa makna. Adanya pur-soi yaitu kesadaran manusia.

c. Kesadaran yang “meniadakan”
            adanya pour-soi, “adanya-untuk-dirinya-sendiri” dapat melepaskan diri dari adanya en-soi. Saya menyadari bahwa saya berbeda dari obyek-obyek. Kesadaran memang selalu bersifat penyangkalan. Menyadari suatu obyek berarti: menyadari bahwa obyek itu berbeda dari saya. Saya bukan X, bukan Y, Bukan Z saya tidak seperti engkau, tidak seperti kemarin, tidak seperti besok. Kesadaran terus menerus “meniadakan”.



d. Kebebasan dan Ketakutan
            menyadari kemungkinan “ketiadaan” berarti bahwa manusia membedakan antara yang sungguh-sungguh dan yang mungkin. Sesuatu yang ada itu juga mungkin. Tetapi ada hal-hal yang mungkin dan yang belum ada. Jembatan antara kemungkinan dan kenyataan itu kebebasan kita. Dalam dunia en-soi tidak ada kebebasan. Dalam dunia manusia ada kebebasan. Manusia harus memilih, dan itu sesuatu yang berat sekali. Beban kebebasan itu begitu berat, sehingga manusia takut, ia merasa angoisse, khawatir, gelisah (bahasa Inggris anguis, bahasa Jerman Angst). Manusia bertanggung jawab atas tindakannya. Banyak orang begitu takut akan tanggung jawab ini, sehingga mereka menyangkal kebebasan, tetapi itu berarti bahwa manusia melarikan diri (Sartre menamai sifat ini mauvaise foi, bad faith). Manusia harus berani. Kita dilemparkan dalam suatu faktisitas yang tidak dipilih oleh kita sendiri. Namun didalam faktisitas ini kita harus mengisi kebebasan kita itu berarti “bereksistensi”.

e. Sesama. Dalam auto biografinya, Sartre menggambarkan kesedihan masa mudanya. Ia merasa tidak diterima oleh anak-anak lain dan mencari kompensasi kesepian ini dalam perpustakaan kakeknya. Dalam sandiwara pintu-pintu tertutup misalnya dikatakan: “Neraka itu sesama. Pikiran Sartre sering kelihatan individualistis, tetapi dalam kenyataannya Sartre banyak perhatian untuk sesama.

Pengaruh
            Filsafat Sartre sangat populer dan berpengaruh antara tahun 1945 dan 1970. Sartre begitu berpengaruh juga disebabkan oleh bentuk tulisan-tulisannya. Kebanyakan bukunya termasuk kesustraan yang sangat indah. Pengaruh Sartre berkurang pada akhir hidupnya. Dalam periode ini juga Sartre sendiri melihat eksistensialismenya hanya sebagai suatu enclave, suatu daerah kantong di dalam humanisme.

2.5.Kelebihan dan kelemahan strukturalisme[10]
Kelebihan dari teori strukturalisme murni adalah sebagai berikut:
1. Teori stukturalisme murni hampir seluruh bidang kehidupan manusia baik itu dalam laju perkembangan IPTEK, dalam menunjang sarana pra sarana penelitian secara global, dan dalam bidang sastra memicu berkembangnya genre sastra dan lainnya.
2. Menumbuhkan prinsif antar hubungan baik itu hubungan masyarakat dengan sastra,, minat mayarakat terhadap penelitaan inter disipliner, memberi pengaruh terhadap berkembangnya teori sastra.
3. Dianggap sebagai salah satu teori modern yang berhasil membawa manusia pada pemahaman yang maksimal.

Kekurangan ataupun kelemahan dari teori strukturalisme murni ini disebabkan karena teori ini hanya menekankan otonomi dan prinsif objektifitas pada struktur karya sastra yang memiliki beberapa kelemahan pokok ialah sebagai berikut:
1. Karya sastra diasingkan dari konteks dan fungsinya sehingga sastra kehilangan relevensi sosialnya, tercabutnya dari sejarah, dan terpisah dari permasalahan manusia.
2. Mengabaikan pengarang (penulis) sebagai pemberi makna dalam penafsiran terhadap karya sastra. Ini sangat krusial sekali dan berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas kepribadian, cita-cita dan juga norma-norma yang di pegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu.
3. Otomatis keobjektifitasannya akan diragukan lagi karena memberi kemungkinan lebih besar terhadap campur tangan pembaca didalam penafsiran karya sastra tersebut.
4. Karya sastra tidak dapat diteliti lagi dalam rangka konvensi-konvnsi kesusastraan sehingga pemahaman kita terhadap terhadap genre dan system sastra sangat terbas sekali.

2.6.Pengertian Poststrukturalisme
Suatu aliran dalam filsafat yang bertitik tolak kesadaran subjektif, sebab proses pemikiran ditentukan keadaan sejarah. Dalam zaman apa pun tidak ada kondisi-kondisi yang memungkinkan kesadaran subjektif yang murni. Bahasa membangun seperangkat kondisi atas kesadaran. Subjek manusia tidak mempunyai kesadaran padu karena telah distrukturkan oleh bahasa. Pengetahuan dinyatakan melalui bahasa, sementara ada sistem kekuasaan yang merintangi dan membuat suatu wacana menjadi tidak sah. Dalam kaitannya dengan sejarah aliran ini menolak pola menyekuruh dalam sejarah. Tak ada gerak maju dalam sejarah (Founcalt), tidak ada titik akhir dalam sejarah (Derrida). Dalam post-strukturalisme, petanda ditundukkan dan penanda-penanda dibiarkan bermain bebas berhadapan satu dengan yang lainnya. Tidak ada hubungan di antara preposisi dan realitas menurut Derrida. Penanda-penanda yang mengambang mengalir terus, sama sekali tidak dapat ditentukan hubungannya dengan acuan-acuan ekstra-linguistik. Post-strukturalisme menekankan interaksi pembaca dan teks sebagai produktivitas. Post-strukturalisme menolak universalisme, totalitas, keutuhan organis, tetapi sebaliknya menekankan fragmatisme waktu, fragmatisme permainan bahasa, fragmatisme subjek manusia, dan fragmatisme masyarakat sendiri.[11]

2.7.Sejarah Filsafat Poststrukturalisme
Post-strukturalisme muncul di Perancis pada tahun 1960-an sebagai sebuah gerakan mengkritisi strukturalisme. Menurut JG Merquior suatu hubungan cinta-benci dengan strukturalisme dikembangkan antara banyak pemikir terkemuka Perancis pada tahun 1960.
Periode ini ditandai dengan kecemasan politik, sebagai mahasiswa dan pekerja sama-sama memberontak terhadap negara pada bulan Mei 1968, hampir menyebabkan jatuhnya pemerintah Perancis. Pada saat yang sama, bagaimanapun, dukungan dari Partai Komunis Perancis (FCP) untuk kebijakan menindas dari Uni Soviet memberikan kontribusi terhadap kekecewaan populer dengan Marxisme ortodoks . Akibatnya, ada peningkatan minat filsafat radikal alternatif, termasuk feminisme , Barat Marxisme , anarkisme , fenomenologi , dan nihilisme. Post-strukturalisme menawarkan sarana membenarkan kritik-kritik ini, dengan mengekspos asumsi yang mendasari norma-norma Barat.[12]
Konsep pemikiran strukturalisme mengalami transformasi pada masa pascastrukturalisme. Aliran ini berpendapat bahwa struktur tidak bersifat statis, namun memiliki kedinamisan. Dan dengan adanya peran agent struktur akan berevolusi sehingga terjadi perubahan dalam struktur tersebut. Menurut Hoed, secara ringkas pascastrukturalisme dapat dicirikan sebagai berikut: (1) pascastrukturalisme memandang struktur dan sistem harus secara dinamis (2) hubungan signifiant-signifie tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk membangun makna (3) pemaknaan teks tidak sekadar hasil memahami secara tunggal melainkan suatu proses (4) kreativitas adalah bagian dari proses produksi teks yang mengikuti jalur intertekstual dan badaniah (5) teks adalah bahasa lisan, bahasa tulis, gambar, bunyi, arsitektur, sistem makanan, sistem busana, dan berbagai manifestasi dari kebudayaan (6) dari “sosial” ke “antisosial”.[13]
Dua tokoh kunci dalam gerakan pasca-strukturalis awal adalah Jacques Derrida dan Roland Barthes .[14] Post-struturalisme tidak bisa dikatakan sebagai oposisi dari strukturalisme atau anti strukturalisme karena pada faktanya pascastrukturalisme masih mengacu pada strukturalisme itu sendiri. Hal ini paling nampak nyata pada dekonstruksi yang dilakukan Derrida terhadap teori tanda de Saussure. Bagaimanapun post-strukturalisme tidak bisa serta merta dilepaskan dari strukturalisme. Post-strukturalisme tidak bersifat tunggal, dalam artian terdapat banyak pendekatan-pendekatan di dalamnya. Oleh karena itu, sifat yang ditemukan pada salah satu tokoh post-strukturalis mungkin tidak ditemukan pada tokoh pascastrukturalis yang lain.
2.8.Tokoh-Tokoh Filsafat Poststrukturalisme
Tokoh-tokoh yang mempunyai peran dalam post-strukturalisme adalah sebagai berikut:
a.      Jacques Derrida
Derrida adalah seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure, Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada tahun 1965 saat ia menerbitkan artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan  bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris.[15]
Sebagai tokoh post-strukturalisme Derrida menitikberatkan pada pasangan biner yang membuat arti. Dengan oposisi biner ini, Derrida berargumen bahwa setiap elemen dalam oposisi tersebut saling bergantung, bukan malah saling berlawanan, untuk menciptakan arti dan eksistensi. Dalam konteks ini, Derrida sudah mendekonstruksi polaritas istilah biner. Dia juga menunjukkan bagaimana dalam semua konsep biner, salah satu elemen selalu tersubordinasi oleh elemen yang satunya (laki-laki / perempuan, baik / buruk). Untuk menggambarkan bagaimana arti diproduksi, Derrida mengembangkan konsep difference, yaitu arti yang membedakan dan membatalkan (to differ and to defer). Derrida memfokuskan secara khusus pada penulisan atau pengucapan biner, di mana pengucapan dilihat sebagai sesuatu yang menjamin subyektifitas dan keberadaan dalam sejarah filsafat dan lingusitik.[16]
Derrida membangun teorinya dengan argumen yang bertolak belakang dengan pemikiran Husserl. Husserl mengemukakan bahwa makna ujaran adalah yang diinginkan oleh pemroduksi tuturan. Bahasa yang utama adalah tuturanBagi Derrida, bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri (self-sfuficient), dan bahkan terbebas dari manusia. Derrida melihat bahasa bersumber pda “tulisan”. Tulisan adalah bahasa yang secara maksimal memnuhi dirinya sendiri karena tulisan menguasai ruang ruang secara maksimal pula. Sebenarnya pemaknaan yang dilakukan oleh Derrida adalah pemaknaan membongkar dan menganalisis secara kritis (critical analysis). Teori ini bertolak dari teori Saussure tentang tanda (Sign).[17]
Dalam teori yang dibuatnya, Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘differance’, yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”, merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan.[18]
Dalam hal Derrida ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan peerbedaan yng tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer)­­ dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (differe) bisa berarti membedakan (to deiffer) atau menagguhkan (to defer).[19]
Praktik “dekonstruksi ” Derrida ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik sastra, misalnya pada New Criticsm.Essainya yang berjudul “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences” , pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966, sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.[20] Seperti yang Derrida (1976) katakan, dekonstruksi bertugas untuk membongkar (deconstruire) struktur-struktur metafisis dan retoris yang bermain dalam teks, bukan untuk menolak atau menyingkirkan struktur-struktur yang ada, melainkan untuk mendeskripsikannya kembali dengan cara lain. “Tidak ada sesuatu pun di luar teks” mengacu pada konsep ketiadaan pusat, sehingga dalam pembacaan atau interpretasi terhadap teks bukan sekedar mereproduksi apa yang dituliskan penulis melalui teks. Cara mendeskripsikan teks yaitu dengan memanfaatkan penanda bukan sebagai kunci transendental yang akan membuka pintu gerbang jalan kebenaran, akan tetapi yang memegang peranan penting disini adalah pembaca sebagai pemikir aktif yang bebas memberikan makna.[21]
b.      Michel Foucault
Michel Foucault lahir di Poitiers pada tahun 1926, ia mendapat aggregation-nya pada umur 25 tahun, dan pada tahun 1925 memperoleh diploma dalam psikologi. Pada tahun 1950-an ia bekerja dalam sebuah rumah sakit jiwa, dan tahun 1955 mengajar di Universitas Uppala, Swedia. Pada bulan April 1970 Foucault diangkat menjadi dosen “sejarah sistem pemikiran” di College de France, yang membahas “praktek-praktek diskursif”.[22]
Oleh karena Foucoult adalah ahli sosiologi, karya-karyanya berkaitan dengan teori-teori post-strukturalime untuk menjelaskan bahwa faktor sosial budaya berpengaruh dalam mendefinisikan tubuh dengan karakter ilmiah, universal, yang tergantung pada waktu dan tempat. Bahwa ciri-ciri alamiah tubuh (laki-laki dan perempuan) bisa bermakna berbeda dalam tataran kebudayaan yang berbeda. Sebagai seorang post-strukturalis Foucoult tertarik pada cara dimana berbagai bentuk ilmu pengetahuan menghasilkan cara-cara hidup. Menurutnya, aspek masyarakat yang paling signifikan untuk menjadi modern bukanlah fakta bahwa masyarakat itu ekonomi kapitalis (Marx),  atau suatu bentuk baru solidaritas (Weber) atau bersikap rasional (Weber), melainkan cara dimana bentuk-bentuk baru pengetahuan yang tidak dikenal pada masa pramodernitas itu muncul yang dapat mendefinisikan kehidupan modern.
Salah satu karya Foucoult adalah Archeology of Knowledge yang merupakan tujuan dari studinya mencari struktur pengetahuan, ide-ide dan modus dari diskursus atau wacana. Ia mempertentangkan arekeologinya itu dengan sejarah atau sejarah ide-ide. Dalam karyanya itu, Foucoult juga ingin mempelajari pernyataan-pernyataan baik lisan maupun tertulis sehinga ia dapat menemukan kondisi dasar yang memungkinkan sebuah diskursus atau wacana bisa berlangsung. Konsep kunci dari Foucoult adalah arkeologi, geneologi dan kekuasaan. Bila arkeologi memfokuskan pada kondisi historis yang ada, sementara geneologi lebih mempermasalahkan tentang proses historis yang merupakan proses tentang jaringan jaringan diskursus.[23]
Foucault juga berargumen bahwa “sejarah pemikiran” adalah sebuah konsep yang salah, karena istilah tersebut menyiratkan sebuah evolusi ide yang terus menerus. Sebagai alternatifnya, Foucault menggunakan istilah genealogi atau arkeologi pengetahuan, dengan memfokuskan pada ruptures atau jedah antara wacana sebuah era dengan era lainnya.[24]

c.       Roland Barthes
Roland Barthes lahir di Cherbourg pada tahun 1915. Sebelum ia berumur setahun ayahnya meninggal dalam sebuah pertempuran laut di Laut Utara, dan sejak saat itu ia diasuh oleh ibu dan neneknya. Sebelumm menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di Paris, Barthes menyelesaikan masa kecilnya di Bayone, Prancis barat daya,. Antara tahun 1943 dan 1947 ia menderita penyakit TBC, dan masa-masa istirahatnya itu dimanfaatkan untuk membaca banyak hal, dan menerbitkan artikel pertamanya tentang Andre Gide. Setelah mengajar di Rumania dan Mesir, tempat pertemuannya dengan A.J. Greimas, ia mengajar Ecole des Autes etudes en Sciences Sociales. Barthes diangkat dalam keangggotaan College de France pada tahun 1977 sampai meninggalnya pada tahun 1980.[25]
Barthes awalnya strukturalis, selama tahun 1960-an ia semakin disukai pasca-strukturalis pandangan. Pada tahun 1967, Barthes menerbitkan "The Death of Author" di mana ia mengumumkan acara metaforis: "kematian" dari penulis sebagai sumber otentik makna untuk teks yang diberikan. Barthes berpendapat bahwa setiap teks sastra memiliki banyak arti, dan bahwa penulis bukanlah sumber utama konten semantik pekerjaan itu. "Kematian Penulis," Barthes dipertahankan, adalah "Kelahiran Reader," sebagai sumber proliferasi makna dari teks.
Roland Barthes sangat penting sehubungan dengan teori pasca-strukturalis. Dalam karyanya, Elemen semiologi (1967), dia maju konsep " metabahasa ". Metabahasa adalah cara sistematis berbicara tentang konsep-konsep seperti makna dan tata bahasa di luar kendala bahasa tradisional (orde pertama), dalam suatu metabahasa, simbol menggantikan kata-kata dan frase. Sejauh salah satu metabahasa diperlukan untuk salah satu penjelasan orde pertama bahasa, yang lain mungkin diperlukan, sehingga metalanguages ​​sebenarnya dapat menggantikan orde pertama bahasa. Barthes memperlihatkan bagaimana sistem strukturalis yang regresif, perintah bahasa mengandalkan suatu metabahasa dengan yang dijelaskan, dan oleh karena dekonstruksi itu sendiri adalah dalam bahaya menjadi suatu metabahasa, sehingga mengekspos semua bahasa dan wacana untuk disimak. Karya lain Barthes 'menyumbang’ teori dekonstruktif tentang teks. [26]
Roland Barthes (1915-1980) menggunakan teori siginifiant-signifié dan muncul dengan teori mengenai konotasi. Perbedaan pokoknya adalah Barthes menekankan teorinya pada mitos dan pada masyarakat budaya tertentu (bukan individual). Barthes mengemukakan bahwa semua hal yang dianggap wajar di dalam suatu masyarakat adalah hasil dari proses konotasi. Perbedaan lainnya adalah pada penekanan konteks pada penandaan. Melalui Hjemslev, Barthes menggunakan istilah expression (bentuk, ekspresi, untuk signifiant) dan contenu (isi, untuk signifiè). Secara teoritis bahasa sebagai sistem memang statis, misalnya meja hijau memang berarti meja yang berwarna hijau. Ini disebutnya bahasa sebagai first order. Namun bahasa sebagai second order mengijinkan kata meja hijau mengemban makna “persidangan”.  Lapis kedua ini yang disebut konotasi.[27]

2.9.    Persamaan dan Perbedaan Strukturalisme dengan Post-Strukturalisme
Ada kesamaan dan perbedaan antara strukturalisme dengan pasca strukturalisme. Kesamaannya adalah mengenai perbendaharaan budaya sebagai konsep yang digunakan untuk memahami budaya dan menggunakan kematian subjek (death of the subject) sebagai cara pendekatan untuk subjek manusia. Sedangkan perbedaannya adalah pasca strukturalisme mempertanyakan keilmiahan, kebenaran, dan epistemologi strukturalisme karena pasca strukturalisme tidak mempercayai kebenaran mutlak. Pasca strukturalisme mengkritik strukturalisme karena tidak memperhatikan peranan kekuasaan dalam struktur. Selain itu, pasca strukturalisme melihat sejarah sebagai sesuatu yang chaos, dan pecahan yang bertabrakan dan bersimpangan dengan yang lainnya untuk mendapatkan kekuasaan dan dominasi. Inti dari pemikiran Foucault adalah wacana. Kuasa adalah dimensi dasar dan tak terelakkan dari kehidupan sosial sehingga setiap wacana pasti dipengaruhi oleh suatu relasi kuasa. Ia juga membahas keterkaitan antara praktek discursive dengan praktek-praktek sosial lainnya. Salah satu pemikiran dari Foucault yang memberikan kontribusi pada dunia modern saat ini adalah pendapatnya yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berhubungan satu sama lain dengan bentuk subjectivity yang membuatnya muncul. Dalam hal ini dia mencontohkan tentang sistem hukuman ataupun penjara. Derrida (Derrida, 1976: 158-159) mengatakan tak ada sesuatu apapun yang berada di luar teks, subjek tak dilahirkan ke dunia namun subjek itulah yang membuat dunia yang bersamaan dengan subjek itu dibuat. Pemikiran lain Derrida yang juga paling terkenal adalah dekonstruksi teks, yaitu metode pembacaan teks secara komprehensif dan mendetail dengan tujuan untuk menginterpretasi teks tersebut.[28]

III.             Kesimpulan
Strukturalisme merupakan pemikiran para Filsuf yang tidak memandang manusia sebagai pusat kenyataan, pusat pemikiran, kebebasan, tindakan dan sejarah. Manusia “didesentralisasikan”, diturunkan dari tahtanya sebagai pusat kenyataan. Dan dalam Post-strukturalisme dapat dicirikan sebagai berikut: (1) Post-strukturalisme memandang struktur dan sistem harus secara dinamis (2) hubungan signifiant-signifie tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk membangun makna (3) pemaknaan teks tidak sekadar hasil memahami secara tunggal melainkan suatu proses (4) kreativitas adalah bagian dari proses produksi teks yang mengikuti jalur intertekstual dan badaniah (5) teks adalah bahasa lisan, bahasa tulis, gambar, bunyi, arsitektur, sistem makanan, sistem busana, dan berbagai manifestasi dari kebudayaan (6) dari “sosial” ke “antisosial”. Dua aliran pemikiran ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Tokoh-tokoh sturkturalisme dan post-strukturalisme adalah H. Bergson, J.P. Sartre, Jacques Derrida, Michel Faocault dan Roland Barthes.



[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), 1039
[2] Ali Mudhofir, Kamus Istilah Filsafat Dan Umum, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), 352
[3] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), 242
[4] Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy, (USA: Cambridge University Press, 1995), 55
[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1039-1040
[6] Bernard Delfgaauw, Filsafat Abad 20, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001), 153
[7] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta: Gramedia, 1984), 100-110
[8] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi, 242-243
[9] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, 100-110
[11] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi, 191-192
[15] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Struturalisme sampai Post-modernisme, (Yogyakarta, KANISIUS, 2001), 169
[19] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Struturalisme sampai Post-modernisme,  171
[20] Ibid, diakses tanggal 1 April 2013
[22] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Struturalisme sampai Post-modernisme, 177
[25] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Struturalisme sampai Post-modernisme, 192

Monday, October 14, 2013


Missio Ecclesiae dan Misio Dei, Misi Holistik, Gereja Misioner
§  Missio Ecclesiae
Missio Ecclesiae adalah pengutusan gereja yang merupakan pekerjaan missioner dari jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia yang di dalamnya terdapat pengutusan para rasu untuk memberitakan Injil keselamatan kepada segala bangsa (umat manusia).[1] Gereja hadir untuk melakaksanakan misi Allah  (Missi Dei), yaitu untuk memberitakan Firman Allah dan mengahadirkan damai sejahtera atau syalom Allah di tengah-tengah dunia. Dalam surat Paulus (Ef. 4:13-14), disebutkan gereja harus sampai pada kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Gereja harus berkarya dalam Kristus serta hidup dan berjalan di dalam Kristus sebagai misi-Nya. Dalam hal ini jelaslah bahwa gereja dan misi tidak dapat terpisahkan, sebab misi gereja (Missio Ecclesiae) melanjutkan pengutusan Allah Putera dan Roh Kudus yang berawal dari Allah Bapa (Yoh. 17:18; 20;21). Jadi misi berawal dari Allah Bapa yang melalui pengutusan Yesus Kristus ke dalam gereja.[2]
Missio Ecclesiae yaitu mewartakan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi manusia, di dalamnya berbicara mengenai pewartaan Yesus Kristus dan karya penyelamatan-Nya yang terbuka bagi semua orang. Gereja mempunyai keharusan untuk mewartakan Injil, baik kepada perorangan maupun kelompok yang dimengerti oleh Roh Kudus untuk memahami kondisi manusia dan membawa manusia kepada pembebasan dosa dan kematian karena perintah Kristus di dalam mengabarkan kabar gembira Allah bahwa Dia mewahyukan dan memberikan diri-Nya sendiri di dalam Kristus untuk Injil harus diwartakan yang menjadi Missio Ecclesiae.[3]
Kita tidak boleh meletakkan misi di bawah gereja , ataupun gereja di bawah misi. Sebaliknya, keduanya harus diangkat ke dalam missio Dei, yang menjadi konsep yang memayunginya. Missio Dei menciptakan mission ecclesiae. Gereja berubah dari pengutus menjadi yang diutus.[4] Dalam eklesiologi yang muncul, gereja pada hakikatnya dipandang missioner. Eklesiologi tidak mendahului misiologi. Kegiatan missioner bukanlah terutama karya gereja melainkan sebagai Gereja yang berkarya.

§  Missio Dei
Missio Dei adalah pengutusan oleh Allah, dimana Allah sendiri yang bertindak sebagai subjek segala pengutusan, terutama pengutusan Anak-Nya. Dialah pengutus agung.[5] Pengutusan ini berhubungan erat dengan keseluruhan pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia, pemilihan Israel, pengutusan para nabi kepada bangsa Israel dan kepada bangsa-bangsa di sekitarnya, pengutusan Yesus Kristus ke tengah-tengah dunia, pengutusan rasul-rasul dan pekabar-pekabar Injil kepada bangsa-bangsa.[6] Misi berasal dari Allah dan berakhir pada Allah. Allah adalah Allah yang mengutus, yang keluar menuju dunia. Ia adalah yang mengutus Putra dan Roh-Nya.[7]
            Di dalam Missio Dei, karya misi pertama-tama dilihat sebagai karya Allah, yakni Allah yang mengutus diri-Nya kepada dunia. Allah hadir di tengah-tengah kehidupan manusia dan memanggilnya untuk menerima tawaran rahmat-Nya. Dampak dari karya rahmat yang mengkristal dan mengendap di dalam kehidupan manusia menjadi saksi hubungan yang telah terjalin antara Allah dengan manusia sepanjang zaman. Manusia yang telah menerima rahmat keselamatan diutus (secara implisit dan eksplisit) untuk menjadi sakramen keselamatan, yakni saksi persatuan antara Allah dengan manusia. Baik panggilan maupun perutusan berorientasi pada rencana Allah untuk menyelamatkan dunia, di mana Allah sendiri “meraja” atas dunia dan menjadi segalanya dalam segalanya (1 Kor. 15: 28).[8]
            Gagasan tentang mission Dei, menurut Bosch, mula-mula muncul pada konferensi IMC di Wilingen pada tahun 1952. Para utusan mengukuhkan bahwa misi berasal dari hakikat Allah sendiri. Artinya misi dipahami berasal dari hakikat Allah sendiri, bukanlah pertama-tama aktivitas gereja, melainkan suatu ciri Allah di mana Allah adalah Allah yang missioner. Jadi di sini misi dilihat sebagai sebuah gerakan dari Allah kepada dunia, dan gereja dipandang sebagai sebuah alat untuk misi tersebut. Gereja ada karena ada misi yang mengutus. Oleh karena itu, misi ada karena Allah mengasihi dunia/ manusia. Pertemuan IMC itu juga memikirkan kembali kewajiban missioner gereja. Kewajiban missioner gereja berasal dari kasih Allah dalam hubungannya yang aktif dengan umat manusia. Oleh karena Allah mengirimkan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk mencari dan mengumpulkan, serta mengubah semua orang yang terasingkan karena dosa dari Allah  dan sesamanya. Inilah yang merupakan kehendak Allah dan itu terwujud di dalam Kristus dan akan disempurnakan di dalam Kristus. Karena Allah juga mengutus Roh Kudus, melalui Roh Kudus, gereja, yang mengalami kasih Allah yang aktif, diyakinkan bahwa Allah akan menyempurnakan apa yang telah dimulainya dengan pengutusan anak-Nya itu.[9]
            Bagi Missio Dei, Allah Alkitab adalah Allah yang missioner, Allah yang mengutus. Melalui Firman dan Roh-Nya, Ia menciptakan laki-laki dan perempuan di dalam gambar-Nya sendiri dan mengutus mereka untuk menguasai alam di bawah kehendak-Nya yang adil dan penuh kasih. Lebih jauh, Allah yang missioner ini telah memilih untuk bertindakdi dalam sejarah. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal…….”, kata Yohanes, meskipun ia melanjutkan dengan mengatakan betapa dunia ini memusuhi Allah dan kehendak-Nya. Tetapi ksih Allah bagi dunia ini dinyatakan di dalam maksud-Nya untuk mentransformasi dunia-suatu transformasi yang diperlihatkan di dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Maksud ini mencakup tindakan Allah di dalam penciptaan dan penebusan dengan mitra manusia yang sepenuhnya bertanggung jawab dan ikut serta di dalam kedudukannya sebagai Tuhan atas ciptaan di dalam keadilan dan perdamaian. Di dalam Kristus, manusia yang baru ini telah tercipta, dan dari tujuan misi ini adalah bahwa semuanya ikut serta di dalmnya. Missio Dei juga menegaskan gagasan bahwa misi adalah milik Allah yang mempertajam fokus kita kepada Injil sebagai kabar baik dari manusia yang diperbarui di dalam Kristus. Alkitab mengungkapanrealitas yang sama dari manusia yang baru ini di dalam kata syalom, perdamaian. Tujuan yang disasar Allah di dalam pekerjaan-Nya,
tujuan akhir dari misi-Nya, adalah mendirikan syalom. Ini meliputi perwujudan realisasi potensi-potensi sepenuhnya dari seluruh ciptaan dan pendamaian akhir dan kesatuan di dalam Kristus.[10]
            Di dalam PL Allah sendiri yang bertindak dalam sejarah, nampak dalam setiap tindakan Allah kepada umat-Nya Israel sebagai suatu rencana karya penyelamatan Allah. Tindakan-tindakan Allah terhadap umat-Nya, bahkan pemanggilan Abraham dan Israel sebagai bangsa pilihan, jelas mempunyai misi yaitu agar umat pilihan-Nya diubahkan atau dibaharui serta umat pilihan-Nya menguduskannya.

§  Misi Holistik
Misi Shalom Allah memiliki hakikat yang holistik. Hakikat misi yang holistik ini dapat dijelaskan sebagai “suatu aspek yang menyeluruh” yang memiliki kesatuan yang integral dengan aspek-aspek lengkap yang  utuh.[11] Misi holistik artinya misi itu tidak terbatas pada kesaksian, penginjilan pribadi, melainkan misi yang mencakup seluruh ajaran Yesus seperti memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang sakit, menghibur yang susah, dan bersikap kritis terhadap pemerintah. Hal ini berarti misi tidak boleh dibiarkan terjebak pada doktrin-doktrin dan tradisi-tradisi keagamaan yang kaku, dan sebagainya (bnd. Yoh.3:17,18; Yoh.17:18). Sehingga usaha untuk mematahkan akar kemiskinan seperti struktur masyarakat yang tidak adil, bentuk-bentuk tindakan yang membuat manusia tidak sejahtera seperti pandangan terhadap kedudukan dan peran perempuan yang dianggap rendah dan terabaikan (Luk. 4:19).
Dalam Perjanjian Baru, penginjilan tidak pernah semata-mata berupa pemberitaan keluar bagi keselamatan jiwa sehingga orang mati (termasuk mati rohani) dibangkitkan tetapi juga berbentuk pelayanan kasih sehingga orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11: 4-5; Yes. 33: 5-6); Injil juga tidak pernah hanya berupa kebutuhan jasmaniah. Dalam bahasan Re-thinking missionaries atau pemikiran tentang kegiatan bermisi, penginjilan itu dipahami bukan hanya dalam rangka penobatan yang membuat orang lain menjadi anggota gereja, tetapi juga dalam rangka memantapkan suatu kebudayaan, peradaban dan kebutuhan manusia.[12] Baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru memperlihatkan bahwa penyampaian berita keselamatan itu (pemberitaan Injil) bersifat holistik, tidak pernah hanya berbentuk pemberitaan firman tetapi juga kesaksian hidup dan pelayanan kasih, tidak hanya bagi keselamatan yang batiniah tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan jasmaniah dalam kehidupan sehari-hari.
Tugas dalam misi adalah memberitakan injil dan barang siapa yang percaya akan di baptis (Mrk.16:16). Tetapi misi tidak hanya menyangkut iman saja, juga menyangkut kehidupan manusia supaya ada kesejahteraan lahir dan batin baik itu menolong orang yang sakit, miskin dll. (Mat. 25:40). Misi itu mempunyai bagian dalam pelayanan sosial. Berdasarkan konsep Injil yang holistik itu, khususnya konsep Injil Kerajaan Allah, maka gereja-gereja di Indonesia dalam Sidang Raya DGI VII pada tahun 1971 menyatakan bahwa Injil adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan serta kebebasan, keadlian, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Tuhan untuk dunia. Bagi DGI Injil cuma satu, yaitu Injil Kerajaan Allah. Penyataan ini ditegaskan ulang dalam Sidang Raya DGI X di Ambon pada tahun 1984. Ditambahkan bahwa “Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia” (Roma 1 : 16). Maksud penegasan ini adalah menggarisbawahi bahwa perealisasian tanda-tanda kehadiran-Nya dalam bentuk kebebasan, keadilan, kebanaran dan kesejahteraan itu bukan tindakan manusia melainkan tindakan Allah sendiri. Dengan demikian pemberitaan Injil dilakukan harus dalam kedua sisinya, yaitu pertobatan dan pembaharuan hidup (vertikal) dan pelayanan sosial diakonia (horizontal).

Dasar-Dasar Misi Yang Holistik
            Dasar-dasar misi yang holistik dalam Alkitab dibangun atas kebenaran Firman antara lain:
1.      Mandat misi Allah (mandat perjanjian) yang membawa shalom merupakan dasar misi yang holistik yang mencakup aspek rohani, budaya, sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, teknik, militer, ekologi, demografi, dan lain-lain. Di mana misi Allah dinyatakan, di situ ada pembebasan manusia secara holistik untuk menikmati shalom secara utuh pula.
2.      Proklamasi misi dari Tuhan Yesus Kristus di dalam Injil Lukas 4: 18-19 menegaskan bahwa misi-Nya yang satu itu beroperasi dengan menyentuh segala aspek kehidupan manusia.
3.      Pelaksanaan misi Tuhan Yesus dilakukan-Nya dengan model yang holistik di mana Ia melayankan Injil yang satu kepada manusia dengan membebaskan secara utuh.
4.      Firman yang dinyatakan Allah dalam Perjanjian Lama selalu bersifat holistik. Contohnya ketika Allah menyatakan diri kepada Yakub yang menyentuh kehidupannya secara utuh dengan membebaskan Yakub dan meneladani aspek rohani; aspek ekonomi/ budaya; aspek sosial yang menjadi kesaksian kepada dunia.

Model Misi Holistik yang Alkitabiah
            Adapun model misi holistik yang Alkitabiah antara lain yaitu:
1.      Model Misi Eksklusif Spiritual
Model ini menjelaskan bahwa misi dan pekabaran Injil hanya berhubungan dengan hal-hal yang rohani. Pandangan ini menekankan bahwa hal paling penting bagi Allah ialah keselamatan jiwa manusia yang berdosa. Model ini ditandai oleh sikap tertutup yang memisahkan diri dari dunia, sehingga terlihat eksklusif spiritual semata.

2.      Model Poros Injil
Model ini menempatkan misi/ injil sebagai poros yang merupakan fokus yang dianggap lebih penting dari misi shalom Allah. Model ini cenderung memberikan nilai secara hierarkis kepada hal-hal rohani (keselamatan jiwa) dan menempatkan hal-hal lain dalam tatanan sekunder.

3.      Model Proporsi Injil Akomodatif
Model ini melihat injil dan urusan rohani sebagai lebih penting dan urusan hidup lainnya. Model ini tidak mengabaikan hal-hal lain dari aspek kehidupan manusia, hanya saja, semua itu di tempatkan pada proporsi setelah hal rohani dari tugas misi.

4.      Model Misi Holistik Paripurna
Model ini bersifat inklusif dan melihat misi Allah dari kaca mata shalom yang menyeluruh yang memiliki dinamika dan beroperasi dalam kondisi kompleksitas tinggi dengan dinamika serta seluruh matra kehidupan.

  • Gereja Misioner



Sebelum membahas tentang cara menjadikan sebuah gereja lokal menjadi gereja yang misioner, ada dua hal mendasar yang perlu dipahami terlebih dahulu. Pertama, konsep yang benar terhadap amanat agung (Mat 28:19-20). Mayoritas orang memahami inti amanat agung terletak pada penginjilan (band. kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat) dan langkah selanjutnya adalah pemuridan, baptisan dan pengajaran. Bagaimanapun, menurut struktur kalimat Yunani di ayat 19-20, inti amanat agung justru terletak pada pemuridan.[13] Hal ini didasarkan pada mood imperatif untuk kata kerja “jadikanlah murid” (lit. “muridkanlah”) yang diikuti oleh tiga participle (anak kalimat), yaitu “pergi”, “baptiskanlah” dan
“ajarkanlah”. Penggunaan kata “muridkanlah” di sini menempatkan penginjilan dalam konteks mempelajari hukum (ajaran) Yesus.[14]
Ke dua, konsep yang benar tentang misi. Ada tiga pandangan umum tentang misi.[15] Pandangan tradisional melihat misi identik (dan terbatas pada) penginjilan. Menurut pandangan modern (kalangan liberal) misi mencakup penginjilan dan pelayanan sosial, namun bagi mereka penginjilan tidak lebih penting daripada pelayanan sosial. Perubahan paradigma kalangan Injili tentang pengertian misi dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa misi Alkitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, tetapi penginjilan tetap menjadi inti misi.[16] Murid-murid diutus untuk melakukan misi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan masalah sosial. Perbedaan konsep tentang pengertian misi seperti di atas bisa membawa implikasi praktis secara vocational (konsep tentang pekerjaan), local (konsep tentang jenis pelayanan gereja) dan national (konsep tentang keterlibatan gereja dalam masyarakat).[17]
Menjadikan gereja yang misioner
Pada bagian ini Penulis akan memberikan beberapa pedoman praktis untuk menciptakan gereja yang missioner. Pedoman praktis yang paling penting, tetapi sekaligus sering diabaikan, adalah berdoa. David  yrant mengatakan, “there is a threefold development in God’s pattern of awakening: first, there are prayer movements, then there is revitalization, then expansion”.[18] Doa memegang peranan lebih penting daripada pengetahuan tentang misi dan berbagai metode/strategi dalam misi. Suatu metode tidak selalu bisa diaplikasikan dalam konteks tertentu, tetapi doa berada di atas semua konteks. Doa misi yang baik harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut: didasarkan pada pengetahuan tentang situasi di lading misi,[19] diadakan secara khusus (misalnya melalui konser doa misi), teratur dan memiliki pokok doa yang sangat spesifik.
Pedoman selanjutnya adalah mengadakan berbagai “propaganda” misi. Tujuan dari propaganda ini adalah menciptakan atmosfir misi di gereja lokal dan mengimpartasi pengetahuan tentang berbagai sisi dunia misi. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui beberapa cara: kotbah yang khusus dan terencana seputar misi, literatur misi (baik perpustakaan misi, majalah dinding maupun artikel di warta gereja), film-film dokumenter tentang tokoh-tokoh misi, ceramah misi dan keterlibatan langsung dalam misi (misalnya mission trip). Khusus untuk ceramah misi, Paul A. Beals mengusulkan agar gereja mengundang pembicara yang berkecimpung di berbagai bidang yang berbeda dalam misi, antara lain pelaksana misi di lapangan, administrator misi di yayasan misi, penginjil muda yang baru direkrut dan dosen misi.[20] Dengan mengundang beragam pembicara seperti ini, gereja akan memperoleh informasi yang komprehensif tentang berbagai sisi pekerjaan misi.
Setelah mengetahui berbagai aspek misi, langkah selanjutnya adalah menentukan target misi yang spesifik. Pembatasan ini bukan dimaksudkan sebagai eksklusivitas, tetapi lebih pada prioritas. Dengan memiliki target misi yang jelas gereja akan lebih efektif terlibat dalam misi. Menjangkau suatu kelompok saja merupakan suatu hal yang sulit, apalagi menjangkau semua kelompok yang ada. Gereja yang memiliki banyak target (mencoba menjangkau semua orang dalam prioritas yang sama) sebenarnya tidak memiliki target.
Only rarely have we heard of an entire people group turning to the Lord. Also rare is
the image of a dynamic local church trying to reach an entire city or even an entire,
significant subculture within that city or area. Therefore, when we talk of reaching an
entire people group (not to mention the world), the task seems impractical and even
impossible.[21]
Untuk memilih target ini gereja perlu mengenal beragam opsi/peluang yang ada dan memperhatikan situasi intern gereja. Berikut ini adalah beberapa target dan peluang misi yang bisa dipertimbangkan:
1. Mengadopsi para penginjil (field worker) yang melayani daerah/suku tertentu dengan cara memberikan bantuan materi secara teratur.
2. Mempersiapkan anggota gereja lokal untuk menjadi penginjil bagi daerah/suku tertentu.
3. Menjangkau golongan masyarakat tertentu yang ada di kota10 atau di desa. Golongan ini bisa didasarkan pada usia, tingkat pendidikan, status ekonomi/sosial, pekerjaan maupun kultur (suku).
Langkah selanjutnya setelah menentukan target misi adalah mengadakan pelatihan khusus dan praktek sesuai dengan target yang telah ditentukan. Bagaimanapun, seminar yang tanpa disertai pelatihan hanya akan menghasilkan ‘persaan bersalah (guilty feeling). Apabila perasaan ini terus menerus “dibangkitkan” melalui berbagai seminar misi yang diadakan, hal ini bisa mematikan nurani terhadap misi. Selain itu, seminar hanya membahas prinsip yang sangat umum, sedangkan situasi yang dihadapi di lapangan seringkali lebih spesifik dan sekaligus kompleks. Dalam kaitan dengan hal ini, gereja perlu memahami bahwa pendidikan misi bukan hanya menyangkut impartasi pengetahuan misi, tetapi juga pengalaman misi.
Paul D. and Katherine A. Gehris menjelaskan cakupan pendidikan sebagai berikut:
The dictionary says to educate is to develop the facilities and powers of by teaching,
instructing or schooling; to quality by instruction or training for a particular calling
or practice. Some people think that one is educated when one knows a lot of facts
about a specific subject; others think that facts are less important than the ability to
find answers to the questions that arise in a given area’ and still others think that the
educated person is one who learns from the past in order to plan for the future. All
are right but not exclusive. Education is a continuous process of seeking, discovering,
and assimilating.[22] (huruf miring ditambahkan)
Pelatihan yang diadakan harus mencakup semua proses yang diperlukan, dari manajemen doa – penelitian lapangan (observasi) – penentuan target – perencanaan – pelaksanaan – evaluasi.
Langkah selanjutnya adalah perencanaan, perekrutan tenaga misi dan penyediaan sarana atau prasarana yang dibutuhkan. Betapapun berpengalamannya seorang pembicara atau instruktur yang diundang dalam pelatihan, ia belum tentu menguasai situasi riil yang konkret, seperti yang dilihat setiap hari oleh jemaat. Instruktur hanya memberikan pedoman dasar, tetapi realisasi dari itu tetap menjadi tugas gereja lokal. Gereja perlu membuat perencanaan yang detil (menyangkut tahapan kerja, waktu, pembuatan anggaran biaya, dsb.). Gereja juga perlu memotivasi agar setiap jemaat terlibat dalam program misi yang telah dibuat. Tidak setiap jemaat harus memberikan kontribusi yang sama dalam pelaksanaan tersebut. Gereja perlu peka dan pro aktif dalam mengoptimalkan sebanyak mungkin jemaat. Sebagian dari mereka juga perlu ditunjuk untuk menggalang dana misi maupun menyediakan sarana yang diperlukan. Setelah program dijalankan selama waktu tertentu, langkah yang perlu ditempuh adalah evaluasi. Langkah ini berguna untuk mengetahui kunci keberhasilan atau kegagalan suatu perencanaan misi. Evaluasi juga penting dalam meningkatkan dedikasi dan loyalitas kaum muda, karena apapun yang mereka lakukan akan mendapatkan penilaian. Gereja perlu mengenali secara langsung faktor apa saja yang mempengaruhi sebuah kegagalan atau 10 Sebagian gereja cenderung hanya membatasi misi pada daerah pedesaan. Misi hanya dipahami dalam konteks mengirim penginjil ke suatu desa. Cara ini dewasa ini diketahui kurang efektif, karena mayoritas penduduk desa cenderung curiga dengan kaum pendatang. Para praktisi misi sekarang mengupayakan penginjilan pada kaum urban yang diharapkan ketika mereka pulang ke kampung untuk liburan, mereka bisa mengabarkan Injil kepada keluarga dan teman mereka di desa. Keberhasilan, misalnya tujuan yang terlalu ambisius, perencanaan yang tidak konkret, loyalitas praktisi yang tidak maksimal, dukungan gereja yang tidak memadai, kekurangan secara finansial sampai faktor X di luar prediksi dan proyeksi yang sudah dilakukan.
Langkah terakhir yang tidak boleh diabaikan adalah pendewasaan iman dari petobat baru. Pendewasaan ini dikenal dengan istilah pemuridan. Pemuridan mencakup perkembangan kognitif tentang seluk beluk kekristenan dan peningkatan gaya hidup menjadi seperti Tuhan Yesus. Gereja perlu menyediakan sarana maupun media pertumbuhan iman, baik yang bersifat pribadi (visitasi yang intensif, bantuan cara membaca Alkitab, dll.) maupun kelompok (kelas katekisasi, modul untuk belajar Alkitab secara berkelompok, kelompok sel atau Kelompok Tumbuh Bersama).[23]

Kesimpulan
Menciptakan sebuah gereja yang misioner tidak bisa dikerjakan dalam sekejap dan hanya melalui sebuah seminar misi. Visi ini juga tidak mungkin dikerjakan oleh orang luar maupun sebagian kecil dari elemen gereja lokal. Gereja yang misioner akan tercipta melalui waktu yang cukup panjang dan peran aktif setiap anggota gereja.
Kiranya makalah pengantar ini bisa membuka khasanah berpikir setiap jemaat tentang misi, membangkitkan apresiasi terhadap pekerjaan misi dan akhirnya memotivasi jemaat untuk terlibat secara aktif dalam pekerjaan Tuhan yang besar di dunia ini melalui misi. Semoga Tuhan menolong kita menjadi jemaat dan gereja lokal yang mencintai misi.
[1] A. de Kuiper, Misiologia, Jakarta: BPK-GM, 1996, 10  
[2] Ranto G. Simamora, Misi Kemanusiaan dan Globalisasi, Bandung: Media, 2006, 75
[3] Yakub Haribrabowo, Misi Gereja Dalam Konteks Pluralitas di Indonesia, Pematang Siantar: Fakultas Filsafat Universitas Santo Thomas, 2003, 117
[4] David J. Bosh, Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2006, 568
[5] H. Venema, Injil Untuk Semua Orang Jilid I, Jakarta: YKBK, 1997, 48
[6] Arie de Kuiper, Missiologia, Jakarta: BPK-GM, 2004,  10
[7] Dion Damis, Dimensi Komunikasi Dalam Misi, dalam Aditya Wacana, Jurnal Agama Dan Kebudyaan, Vol. III, No.2, 2004, 92
[8] Edmund Woga, Dasar- Dasar Misiologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002, 57
[9] Norman E. Thomas, Teks-teks Klasik Tentang Misi Dan Kekristenan Di Dunia, Jakarta: BPK-GM, 1998,  147
[10] Ibid, 164
[11] Yakob Tomatala, Teologi Misi, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003,  63
[12] Risnawaty Sinulingga “Suatu Tinjauan Teologis Tentang Misi” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan Edisi XVIII, Medan: STT Abdi Sabda, 2007,  41
[13] D. A. Carson, “Matthew” dalam Expositor’s Bible Commentary on the New Testament, ed. by Frank E. Gaebelein. Zondervan Reference Software.
[14] Robert H. Gundry, Matthew: A Commentary on His Handbook for a Mixed Church under Persecution (2nd ed., Grand Rapids: Wm. B. Eedrmans Publishing Company, 1994), 596
[15] A. Scott Moreau, “Mission and Missions” dalam Evangelical Dictionary of World Missions (A. Scott Moreau, Harold Netland and Charles van Engen, eds., Grand Rapids/Carlisle: Baker Books/Paternoster Press, 2000),  637-638
[16] Untuk pembahasan tentang pengertian misi ini lihat John R. W. Stott, Christian Mission in the Modern World (Downer Grove: Inter-Varsity Press, 1975), 15-34
[17] Ibid., 31-34
[18] “Concerts of Prayer” dalam Faithful in Christ Jesus: A Mission Reader, Urbana Advance (comp. by Bill Gohen and Karen Niedermayer; Downer Grove: Inter-Varsity Press, 1984), 22. Signifikansi doa bagi kebangunan rohani juga dapat dilihat dari seri film dokumenter Transformation
[19] Ada beberapa sumber yang bisa dipakai untuk meng-up date informasi tentang misi di Indonesia. Salah satu yang umum dipakai adalah terbitan Kalender Jaringan Doa Nasional (KJDN). Bentuk pamflet bisa didapat secara cuma-cuma, sedangkan yang dalam bentuk buku bisa dibeli dengan harga yang relatif sangat murah. Untuk informasi tentang misi global (seluruh dunia), sumber utama yang biasa dipakai adalah buku Operation World yang secara kontinyu mengalami revisi.
[20] A People for His Name: A Church-Based Missions Strategy (Grand Rapids: Baker Book House, 1988), 104-105.
[21] Ralph D. Winter & Steven C. Hawthorne, Perspectives on the World Christian Movement: A Study Guide (rev. ed., Pasadena: Willliam Carey Library, 1991), 15-1.
[22] The Teaching Church-Active in Mission (Valley Forge: Judson Press, 1987),  21.
[23] Hal yang perlu diingat adalah bahwa pelebaran Kerajaan Allah melalui misi tidak selalu identik dengan  pertumbuhan gereja. Pelaksanaan misi tidak semata-mata ditujukan untuk memperbanyak anggota gereja lokal. bagaimanapun, gereja lokal tetap perlu terlibat dalam misi dan pemuridan. Petobat baru juga sebisa mungkin dibimbing menjadi anggota aktif suatu gereja local.